Pengalaman Antre di UGD Malam Hari: Apa yang Terjadi pada Layanan Medis

Malam yang Panjang di UGD: suasana dan ketegangan

Itu sekitar pukul 02.15 ketika saya melangkah ke UGD rumah sakit negeri di kota saya. Lampu fluorescent membuat ruangan terasa lebih dingin daripada suhu di luar; bunyi alat monitor yang berdecak, pengumuman singkat di corong, dan aroma antiseptik memenuhi udara. Saya membawa tas kecil, catatan medis, dan satu rasa khawatir yang berat — bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga karena saya sempat berpikir, “Apakah ini benar-benar darurat?”

Saya ingat duduk di kursi plastik di ruang tunggu bersama tiga orang lain yang wajahnya tampak pucat, dua orang tersedu-sedu, dan seorang ibu yang terus menggenggam tangan anaknya. Jam dinding terus berdetak. Dalam hati saya bergumam: mengapa antreannya lama? Apakah sistemnya sedang kewalahan? Pengalaman itu bukan hanya soal menunggu; itu soal bagaimana prioritas ditetapkan di tengah keterbatasan waktu dan sumber daya.

Prioritas dan triase: kenapa menunggu bisa jadi panjang

Setelah sekitar 25 menit, seorang perawat memanggil saya untuk triase. Di situlah saya memahami banyak hal yang sebelumnya hanya saya baca dari artikel. Triage bukan proses birokratis — itu penentu hidup-mati. Perawat menilai tanda vital, warna kulit, kesadaran, dan keluhan utama. Pasien dengan gangguan pernapasan berat atau pendarahan hebat akan diprioritaskan; pasien yang stabil namun membutuhkan evaluasi lanjutan harus menunggu.

Pada malam hari, jumlah dokter spesialis yang siap di rumah sakit biasanya berkurang. Laboratorium mungkin tetap buka, tetapi waktu hasil bisa lebih lama karena staf terbatas. Saya mengalami ini: CT scan harus menunggu teknisi datang. Itu membuat cepat menjadi lambat. Dari pengalaman bertahun-tahun menulis tentang sistem kesehatan, saya bisa bilang: UGD malam berfungsi berdasarkan protokol yang ketat, bukan sesuai urutan kedatangan. Hal ini membuat antrean terlihat tidak adil, namun sebenarnya berbasis pada prioritas medis.

Proses di tengah malam: adaptasi layanan medis dan peran saya

Saat menunggu, saya mencoba hal yang sederhana tapi efektif: mencatat gejala, riwayat obat, dan membuat daftar pertanyaan untuk dokter. Ini membantu ketika akhirnya giliran saya tiba; komunikasi yang jelas mempercepat keputusan klinis. Seorang dokter jaga datang, menatap catatan saya, lalu berkata dengan tenang, “Kita akan mulai dari pemeriksaan fisik, lalu pertimbangkan pemeriksaan penunjang.” Nada suaranya menenangkan. Di momen itu saya merasa aman — meski masih lelah dan cemas.

Saya juga menyadari sesuatu yang sering saya tulis sebagai penulis kesehatan: pencegahan mengurangi beban UGD. Banyak orang datang karena kondisi yang sebenarnya bisa diatasi lebih awal melalui pengelolaan kronis—hipertensi yang tidak terkontrol, infeksi yang dibiarkan, atau luka kecil yang jadi infeksi. Malam itu saya melihat beberapa kasus seperti itu. Jika layanan primer dan edukasi pencegahan lebih kuat, antrean UGD—terutama di malam hari—akan berkurang signifikan.

Pelajaran pencegahan: langkah praktis agar tidak berakhir dini di UGD

Dari pengalaman antre ini saya menarik beberapa pelajaran yang konkret. Pertama, kenali tanda bahaya yang benar-benar memerlukan UGD: sesak napas berat, nyeri dada mendadak, pendarahan masif, kehilangan kesadaran. Jangan ragu menelepon ambulans. Kedua, jaga kontrol penyakit kronis: rutin periksa tekanan darah, gula, dan rutin minum obat. Ketiga, vaksinasi dan kebersihan tangan—dua hal sederhana yang menyelamatkan banyak masalah di masyarakat.

Saya juga merekomendasikan memanfaatkan layanan primer dan telemedicine sebagai langkah pencegahan. Malam itu, sebelum berangkat, saya sempat membuka davismedicalclinic untuk mencari info gejala dan saran awal. Informasi yang tepat membantu saya memutuskan kapan harus langsung ke UGD dan kapan bisa menunggu keesokan hari ke klinik.

Terakhir, siapkan catatan obat dan riwayat medis singkat dalam ponsel. Di UGD, waktu dokter sangat berharga; informasi yang ringkas mempermudah diagnosis dan mempercepat tindakan. Saya belajar bahwa kesiapan kecil bisa memangkas jam-jam menunggu yang melelahkan.

Ketika akhirnya saya keluar dari UGD pagi itu, sekitar pukul 05.00, langit mulai memerah. Ada rasa lega. Lebih dari itu, ada keyakinan: sistem bekerja, walau tidak sempurna, dan banyak antrean bisa dicegah dengan tindakan sederhana sehari-hari. Pengalaman antre malam hari bukan hanya cerita tentang menunggu — itu panggilan untuk lebih sadar menjaga kesehatan, sehingga UGD malam bisa benar-benar diprioritaskan untuk yang paling membutuhkan.